Kentang (Solanum
tuberosum) merupakan salah satu umbi-umbian yang banyak digunakan sebagai
sumber karbohidrat (makanan pokok) bagi penduduk dunia, setelah gandum, jagung
dan beras. Sebagai umbi-umbian, kentang cukup menonjol dalam hal penyediaan zat
gizi, terutama mineral (fosfor, besi dan kalium) serta vitamin B1 dan vitamin
C. Di Indonesia, penggunaan kentang hanya terbatas sebagai bahan sayuran.
Penggunaan dalam bentuk lain masih sangat sedikit, sehingga perlu usaha untuk
meningkatkan penganekaragaman produk olahan kentang.
Keripik kentang yang ada di pasaran, hingga kini masih
didominir oleh kerippik kentang (potato chips) impor. Mengingat kentang banyak
dihasilkan di Indonesia, tidak mustahil kiranya kalau masyarakat Indonesia
mampu menghasilkan keripik kentang yang bermutu tinggi dan disukai konsumen, di
masa-masa mendatang.
Bahan dasar untuk pembuatan keripik kentang adalah umbi
kentang. Sedangkan bahan pengisi yang digunakan adalah tepung tapioka dan
mentega. Adanya mentega, akan membuat keripik kentang yang dihasilkan mempunyai
rupa yang menarik, tekstur yang renyah, nilai gizi yang lebih tinggi serta
cita rasa yang lebih disukai konsumen.
Prinsip pembuatan keripik kentang adalah pencampuran tepung
kentang dengan tapioka dan bahan-bahan tambahan lainnya, yang kemudian
dilanjutkan dengan pembuatan adonan dan pencetakan. Langkah terakhir adalah
penggorengan. Proses penggorengan akan membuat keripik menjadi gurih dan
bergizi (kalori) tinggi.
Bahan-bahan:
- Kentang
- Tapioka
- Mentega
- Garam
- Air
Peralatan:
- Pisau anti karat
- Lemari pengering (oven)
- Alat pencetak
- Kompor dan kwali
Cara pembuatan:
1. Kentang dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan tanah dan kotoran-kotoran lain yang melekat pada kulit kentang. Kentang dikupas dengan pisau anti karat untuk menghilangkan kulit, mata dan bagian-bagian cacat lainnya. Selain dengan pisau, pengupasan juga dapat dilakukan dengan perendaman dalam larutan NaOH encer panas (lye peeling), uap bertekanan tinggi (steam peeling), perebusan dengan larutan garam jenuh (brine peeling), perebusan dengan asam atau dikupas dengan alat pengupas (abrasive peeling). Selanjutnya kentang diiris-iris dengan ketebalan kira-kira 1 sentimeter.
2. Irisan-irisan kentang dibansir (blanching), yaitu direbus dalam air mendidih selama 5 menit. Tujuannya untuk menciptakan warna dan tekstur yang menarik pada waktu digoreng, mengurangi penyerapan minyak dan mempercepat waktu penggorengan. Setelah diblansir kemudian dikukkus sampai masak, yaitu kira-kira selama 15 menit.
3. Kentang yang telah dikukus kemudian didinginkan. Setelah dingin dihancurkan dengan alat penghancur (ditepungkan). Hancuran kentang selanjutnya dijemur di bawah sinar matahari atau dikeringkan menggunakan alat pengering buatan (oven).
4. Tepung kentang kering selanjutnya ditambah dengan air sampai membentuk adonan yang baik. Ke dalam adonan juga ditambahkan mentega dan garam, masing-masing sebanyak 3 persen dari berat adonan yang digunakan. Campuran tersebut diaduk sampai merata.
5. Adonan dipres dengan alat pengepres dan dicetak. Kalau alat pencetak tidak tersedia, dapat juga dibuat lontongan terlebih dahulu, kemudian diiris-iris setipis mungkin dengan pisau tajam.
6. Irisan-irisan tersebut kemudian dijemur atau dikeringkan di oven. Setelah kering digoreng dengan minyak goreng, yaitu pada suhu di atas 150 derajat celsius. Minyak yang digunakan harus berlebih, sampai merendam keripik yang sedang digoreng (deep frying).
No comments:
Post a Comment